blogger motipasi kesuksesan

mendorong buat sukses

Breaking

December 11, 2017

Misi Hidup dalam Sebuah Kerja





Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni.

Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah. Hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah.

Lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab “Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun”. Tapi bukankan ia bisa menaikan harga sedikit? Sekali lagi ia terkekeh, “lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil menunjukan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah..! betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja.

Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua diatas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh.

Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka.

Bukankan demikian tugas kita dalam kerja; menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.


December 11, 2017

Persahabatan yang mulia




Alkisah pada suatu siang, sang istri meminta tolong suaminya yang sedang membaca koran, “Ayah, ke sini sebentar, bantu anak perempuan kita untuk makan”.

Aku menaruh koran dan melihat putri tunggalku, namanya Sindhu, tampak terisak. Di hadapannya ada semangkuk nasi yoghurt (curd rice). Sindhu, di usianya yang ke-8, adalah anak yang manis dan pintar. Tapi dia tidak suka makanan itu. Sementara istriku yang masih memegang tradisi, percaya kalau makan nasi yoghurt baik untuk kesehatan.

“Sindhu, maukah kamu makan beberapa sendok?" kataku membujuk.

Isak tangis Sindhu mereda dan sambil menghapus air mata dengan tangannya, ia berkata, “Ayah, Ibu.. aku akan makan nasi yoghurt ini. Tidak hanya beberapa sendok, semua akan aku habiskan! Tapi aku ada sebuah permintaan…”.

Setelah ragu sejenak, Sindhu melanjutkan, “Kalau semua habis, Ayah & Ibu janji mau memenuhi permintaanku...?”

Sambil menggenggam erat tangan anakku, aku & istri menggangguk sebagai tanda setuju.

Sindhu kemudian menambahkan, “Jangan khawatir, aku tidak minta barang yang mahal, kok”.

Kemudian Sindhu dengan perlahan dan penuh tekad, biarpun kelihatan menderita, berusaha menelan dan menghabiskan semua nasi yoghurt-nya. Ia benar-benar memakan sesuatu yang tidak disukainya, semangkok penuh, sampai habis.

Setelah itu, aku bertanya, “Sindhu, apa yang kamu mau?”

Dengan mata penuh harap, Sindhu berkata,”Ayah, Ibu, aku mau dibotakin ya”.

Istriku spontan berkata, “Hah..? Anak perempuan mau dibotakin? Tidak mungkin!”

Aku memandang anak perempuanku. “Sindhu.. kenapa kamu tidak minta yang lain saja, Nak? Kami semua akan sedih kalau melihatmu botak”.

Tetapi Sindhu kukuh dengan pilihannya. “Tidak ada ‘Yah, tak ada permintaan lain”. Kemudian katanya, “Ayah dan ibu tadi sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa sekarang mau menarik perkataan sendiri?”.

Aku menoleh ke istriku sambil berkata, "Bu, janji kita harus ditepati. Sindhu, permintaanmu akan kami penuhi”.

Hari berikutnya, aku mengantar putri tercintaku ke sekolah. Dengan kepala botak, wajah Sindhu nampak bundar, matanya tampak besar dan bagus. Sambil berjalan ke kelasnya, dia melambaikan tangan padaku, sambil tersenyum senang.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak: "Sindhu! Sindhu! Tunggu aku...!” Yang mengejutkan, ternyata kepala anak laki-laki itu juga botak. “Oooh. Mungkin ‘botak’ model zaman sekarang, ya..,” pikirku.

Lalu, seorang wanita keluar menyusul dari mobil, lantas menghampiri dan bicara padaku. “Bapak, anak anda benar-benar hebat! Anak botak yang sedang berjalan bersamanya, namanya Harish. Dia anak saya, lagi sakit leukemia”.

Dengan mata berkaca-kaca, wanita itu berkata padaku. "Karena efek kemoterapi, rambutnya rontok dan kepalanya menjadi botak. Dia tidak mau pergi ke sekolah karena malu, takut diejek teman-teman sekelasnya. Tapi, minggu lalu.. Sindu datang ke rumah. Dia berkata kepada anak saya, akan menemaninya saat masuk ke sekolah nanti. Saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindhu akan melakukan hal yang hebat, mau mengorbankan rambutnya yang indah itu untuk membantu anakku. Terima kasih, keluarga Anda sungguh diberkati Tuhan, mempunyai anak perempuan berhati mulia” tuturnya sambil menjabat tanganku dengan khidmad dan penuh syukur.

Setelah perempuan itu pergi, aku berdiri terpaku, shock mendengar kisah di balik permintaan Sindhu yang tidak biasa itu. Tidak terasa air mataku pun meleleh. Sungguh luar biasa, seorang anak bisa mengajarkan kepada kami tentang arti kasih dan pengorbanan tanpa pamrih.

Solidaritas merupakan satu sikap serta karakter yang positif. Tapi dengan catatan, bukan untuk solidaritas yang buta, sekadar fanatisme. Tentu yang dimaksud di sini, solidaritas untuk hal-hal positif.

Dalam solidaritas, ada nilai-nilai yang sama: belas kasih, suka menolong, saling membantu, kepedulian, rasa kesetiaan, empati, dan lain-lain. Semuanya perlu ditanamkan & dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, hidup kita pasti punya nilai, punya makna yang luar biasa.


December 11, 2017

Lingkaran Waktu Yang Tiada Berujung





Betapa hebatnya waktu mengatur kita.

Ketika lonceng jam usai kerja berdering, tanpa diperintah segera kita berkemas.

Menyimpan kertas dan pensil dalam laci, lalu meninggalkannya jauh-jauh. Seolah semua persoalan telah terpecahkan untuk hari itu. Padahal masalah tetap terjaga selagi kita pejamkan mata.

Namun, esok hari, ketika lonceng jam mulai kerja berdentang, semua tumpukan masalah kita aduk, seolah ia terlampau banyak tidur semalam.

Perselisihan pun bolehlah dilanjutkan kembali. Ah, betapa hebatnya waktu menghibur kita. Betapa bergairahnya waktu membangunkan kita.

Saat kita mengatur waktu, sesungguhnya kita pun mengatur pikiran, emosi dan perasaan kita. Karena waktu adalah lingkaran dimana kehidupan kita berjalan, kita atur waktu untuk mengatur kehidupan.

Kita rayakan sesuatu karena kita ciptakan hari besar. Kita heningkan diri karena kita tegakkan kesyahduan. Dan, semua itu kita rangkai dalam jalinan waktu.

Maka, hanya mereka yang tak kenal akan waktulah yang terjerat dalam persoalan tiada berujung.


December 11, 2017

Kentang, Telur dan Biji Kopi





Pada suatu hari, ada seorang anak perempuan yang mengeluh kepada ayahnya bahwa hidupnya sengsara dan bahwa dia tidak tahu bagaimana dia akan berhasil. Dia lelah berjuang dan berjuang sepanjang waktu. Tampaknya hanya salah satu dari masalahnya yang dapat ia selesaikan, kemudian masalah yang lainnya segera menyusul untuk dapat diselesaikan.

Ayahnya yang juga seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air dan menaruhnya di atas api yang besar. Setelah tiga panci tersebut mulai mendidih, ia memasukkan beberapa kentang ke dalam sebuah panci, beberapa telur di panci kedua dan beberapa biji kopi di panci ketiga.

Kemudian ia duduk dan membiarkan ketiga panci tersebut di atas kompor agar mendidih, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada putrinya. Putrinya mengeluh dan tidak sabar menunggu, bertanya-tanya apa yang telah ayahnya lakukan.

Setelah dua puluh menit, ia mematikan kompor tersebut. Ia mengambil kentang dari panci dan menempatkannya ke dalam mangkuk. Ia mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk.

Kemudian ia menyendok kopi dan meletakkannya ke dalam cangkir. Lalu ia beralih menatap putrinya dan bertanya “Nak, apa yang kamu lihat?”

“Kentang, telur, dan kopi” putrinya buru-buru menjawabnya.

“Lihatlah lebih dekat, dan sentuh kentang ini” kata sang ayah. Putrinya melakukan apa yang diminta oleh ayahnya dan mencatat didalam otaknya bahwa kentang itu lembut. Kemudian sang ayah memintanya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapatkan sebuah telur rebus. Akhirnya, sang ayah memintanya untuk mencicipi kopi. Aroma kopi yang kaya membuatnya tersenyum.

“Ayah, apa artinya semua ini?” tanyanya.

Kemudian sang ayah menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing telah menghadapi kesulitan yang sama, yaitu air mendidih.

Namun, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Kentang itu kuat dan keras. Namun ketika dimasukkan kedalam air mendidih, kentang tersebut menjadi lunak dan lemah.

Telur yang rapuh, dengan kulit luar tipis melindungi bagian dalam telur yang cair sampai dimasukkan ke dalam air mendidih. Sampai akhirnya bagian dalam telur menjadi keras.

Namun, biji kopi tanah yang paling unik. Setelah biji kopi terkena air mendidih, biji kopi mengubah air dan menciptakan sesuatu yang baru.

“Kamu termasuk yang mana, nak?” tanya sang ayah kepada putrinya.

“Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana caramu dalam menghadapinya? Apakah kamu adalah sebuah kentang, telur, atau biji kopi?”

Dalam hidup ini, banyak sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Banyak hal-hal yang terjadi pada kita. Tetapi satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah apa yang terjadi di dalam diri kita. Jadi, manakah diri anda? Apakah anda adalah sebuah kentang, telur, atau biji kopi?


December 10, 2017

Arti Kehidupan





Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa.


December 10, 2017

Bersikap Apa Adanya





Tanpa sadar banyak orang hidup dalam tekanan. Bukan karena beban terlalu berat atau kekuatan tak memadai. Namun, karena tidak mau berterus terang. Hidup dalam kepura-puraan tak memberikan kenyamanan.

Bersikaplah apa adanya. Bila kita kesulitan, jangan tolak bantuan. Sikap terus terang membuka jalan bagi penerimaan orang lain.

Persahabatan dan kerja sama membutuhkan satu hal yang sama, yaitu keakraban di antara orang-orang. Keakraban tercipta bila satu sama lain saling menerima. Sedangkan penerimaan yang tulus hanya terujud dalam kejujuran dan terus terang.

Kepura-puraan itu bagaikan bunga mawar plastik dengan kelopak dan warna sempurna, namun tak mewangi. Meski mawar asli tak seindah tiruannya dan segera layu, kita tetap saja menyukainya. Mengapa? Karena ada detak kehidupan alam disana.

Hidup dalam kejujuran adalah hidup alami yang sejati. Hidup berpura-pura sama saja membohongi hidup itu sendiri. Kita bisa memilih untuk hidup apa adanya dan berhak menginjakkan kaki di bumi ini. Atau, hidup berpura-pura dalam dunia ilusi.


December 10, 2017

Hinaan Membawa Berkah





Suatu hari, anak muda ini mengantar penuh muatan berisi puluhan buku ke kantor berlantai 7 di suatu perguruan tinggi ; ketika dia memanggul buku-buku tersebut menunggu di lift, seorang satpam yang berusia 50-an menghampirinya dan berkata : “Lift ini untuk profesor dan dosen, lainnya tidak diperkenankan memakai lift ini, kau harus lewat tangga!”.

Anak muda memberian penjelasan pada satpam itu : “Saya hanya ingin mengantar buku semobil ini ke kantor lantai 7, ini kan buku pesanan kampus ini !”.

Namun, dengan beringas satpam itu berkata :“Saya bilang tidak boleh ya tidak boleh, kau bukan profesor atau pun dosen, tidak boleh menggunakan lift ini!.

Kedua orang itu berdebat cukup lama di depan pintu lift, tapi, satpam tetap bersikeras tidak mau mengalah. Dalam benak anak muda itu berpikir, jika hendak mengangkut habis buku semobil penuh ini, paling tidak harus bolak-balik 20 kali lebih ke lantai 7, ini akan sangat melelahkan!.

Kemudian, anak muda itu tidak dapat menahan lagi satpam yang menyusahkan ini, lantas begitu pikirannya terlintas, ia memindahkan tumpukan buku-buku itu ke sudut aula, kemudian pergi begitu saja.

Setelah itu, anak muda menjelaskan peristiwa yang dialaminya kepada bos, dan bos bisa memakluminya, sekaligus juga mengajukan surat pengunduran diri pada bosnya, dan segera setelah itu ia pergi ke toko buku membeli bahan pelajaran sekolah SMU dan buku referensi, sambil meneteskan air mata ia bersumpah, saya harus bekerja keras, harus bisa lulus masuk ke perguruan tinggi, saya tidak akan membiarkan dilecehkan orang lagi.

Selama 6 bulan menjelang ujian, anak muda ini belajar selama 14 jam setiap hari, sebab ia sadar, waktunya sudah tidak banyak, ia tidak bisa lagi mundur, saat ia bermalas-malasan, dalam benaknya selalu terbayang akan hinaan security yang tidak mngizinkannya memakai lift, membayangkan diskriminasi ini, ia segera memacu semangatnya, dan melipatkangandakan kerja kerasnya.

Belakangan, anak muda ini akhirnya berhasil lulus masuk ke salah satu lembaga ilmu kedokteran. Dan kini, selama 20 tahun lebih telah berlalu, sang anak muda akhirnya berhasil menjadi seorang dokter klinik.

Sang dokter merenung sejenak, ketika itu, jika bukan karena security yang sengaja mempersulitya, bagaimana mungkin ia menyeka air matanya dari hinaan itu, dan berdiri dengan berani ?

Dia telah berhutang budi pada security yang menghinanya !

December 10, 2017

Malaikat dan Pengusaha





Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!".

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ..." kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".

Dengan lembut si Malaikat berkata, "aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra-putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua - itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu".

Kembali terlihat di mana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, "Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar di hadapan-Mu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri". Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini . . . timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang!

Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah di antara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah".

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

"Bukankah itu Panti Asuhan?" kata si pengusaha pelan.

"Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri".

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu".

December 10, 2017

Sibukkan diri dalam kebaikan, hingga keburukan lelah mengikuti





Seorang anak kehilangan sepatunya di laut, lalu dia menulis di pinggir pantai,
LAUT INI MALING!

Tak lama datanglah nelayan yang membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai,

LAUT INI BAIK HATI

Seorang anak tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai,

LAUT INI PEMBUNUH!

Seorang berperahu dan di hantam badai, lalu menulis di pantai,

LAUT INI PENUH MARABAHAYA!

Tak lama datanglah Seorang lelaki yang menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai,

LAUT INI PENUH BERKAH

Sementara seisi lautan tak pernah mengeluh.Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu tanpa sisa.

Maka,

Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik. Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.

Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi Siapa yang mau berbuat baik.

Jangan menghapus persaudaraan hanya karena sebuah kesalahan. Namun hapuslah kesalahan demi lanjutnya persaudaraan.

Jika datang kepadamu gangguan. Jangan berpikir bagaimana cara membalas dengan yang lebih perih, tapi berpikirlah bagaimana cara membalas dengan yang lebih baik.

Kurangi mengeluh teruslah berdoa.

 

Memaafkan adalah memaafkan tanpa tapi.

Menghargai adalah menghargai tanpa tapi.

Jangan pakai hukum sebab akibat untuk membenarkan amarahmu, karena jika kau baik, amarah tak kau biarkan tumbuh subur dalam hatimu.


December 10, 2017

Kerikil Kerikil




Kisah di sebuah pedalaman, hidup seorang pemuda yang pemurung. Seluruh hidupnya selalu dia hiasi dengan penyesalan.

Kenapa aku lakukan itu tadi... Kenapa harus begini...

Pernyataan selalu terlontar dalam benak pemuda itu.... Entah berapa hari dia lewati dengan penuh kemurungan itu... Hingga suatu hari di saat dia duduk di depan rumahnya muncullah seorang nenek yang tua sedang meminggul sesuatu yang sangat berat di punggungnya.

Herannya nenek itu tidak terlihat letih atau pun pucat. Mukanya tampak berseri-seri dan penuh senyuman. Lalu nenek itu bertanya ke pemuda itu.

"Nak... Nenek mau tanya... Kalau lewat jalan ini tembusnya kemana ya?" 

Pemuda itu merasa heran dan menjawab "Oh Nenek mau kemana? Kalau lewat jalan ini nenek akan ke desa seberang. Ehm nek apa yang Nenek bawa itu?" pemuda itu pun penasaran dengan apa yang dibawa nenek itu.

"Oh terima kasih nak...Nenek mau ke suatu tempat yang bisa menaruh apa yang nenek bawa ini" nenek itu pun menjawab. "Memang apa yang nenek bawa ini?" pemuda itu mulai penasaran.

"Nenek membawa kerikil yang nenek pungut di sepanjang perjalanan nenek ini." Nenek itu menjawab sambil tersenyum.

"Maksud nenek yang nenek bawa itu kerikil? Kan itu berat Nek? Kenapa nenek tidak merasa lelah membawa kerikil sebanyak itu?" Pemuda itu makin penasaran.

"Karena nenek merasa yang nenek bawa ini bukanlah sebuah kerikil yang memberatkan nenek.. Kerikil ini adalah bagian dari perjalanan nenek menuju tempat dimana harus kerikil ditaruh. Kerikil itu indah Nak... dan nenek bahagia membawanya".

Perkataan nenek itu membuat pemuda itu terdiam sejenak... lalu pemuda itu bertanya "Ehm... Kalau boleh saya tahu tempat yang nenek sebut tadi untuk menaruh kerikil ini dimana nek?".

Dengan senyum yang berseri... nenek itu menjawab "Kenangan Nak :-)" Lalu nenek itu berjalan lagi dan menghilang di rerimbunan hutan.

December 10, 2017

Kuda dan Tetangga





Suatu saat ada seorang bapak yang bijaksana membeli seekor kuda jantan untuk anaknya yang sangat dia sayangi. Anaknya ini seorang laki-laki. Tetangganya yang suka iri bertanya kepada bapaknya, “Apa gunanya kau beli kuda jantan yang mahal ini bukankah akan semakin membebani hidupmu? Bukankah akan semakin memperbesar pengeluaran-pengeluaranmu?" Itulah kata sang tetangga yang sering berpikir negatif.

Bapak yang bijaksana mengatakan “Tidak apa-apa, yang penting anak saya bahagia”. Beberapa hari kemudian kuda jantan yang bagus ini pergi meninggalkan rumah dan tak kembali. Tetangga yang sirik tadi datang ke rumah dan berkata “Apa saya bilang, selain mahal sekarang hilang”.

Bapak yang bijaksana berkata “Kalau itu yang terbaik untuk saya, saya ikhlas”. Beberapa hari kemudian kuda jantan tadi pulang ke rumah membawa kuda betina. Bapak yang bijaksana ini sangat bersyukur dan anaknya pun senang kembali.

Tetangga yang sirik tadi datang kembali kerumah “Iya ya, ada untungnya juga kamu membeli kuda jantan, karena kuda mu pulang membawa kuda betina”. Karena senangnya anaknya bermain, beberapa hari kemudian entah karena teledor atau karena sesuatu hal lain, kaki sang kuda menginjak kaki anaknya. Dan kaki anaknya yang sebelah kiri patah.

Bapak yang bijaksana berkata “Tidak apa-apa nak, mungkin ini yang terbaik buat ayah dan buat kamu”. Tetangga yang sirik datang kembali “Apa aku bilang, jangan kauijinkan anakmu bermain dengan kuda, tuh lihat kaki anakmu patah”. Lagi-lagi bapak yang bijaksana berkata “Mungkin ini yang terbaik buat kami”.

15 tahun kemudian, datanglah wajib militer ke daerah tersebut. Semua anak laki-laki di daerah itu wajib ikut militer, wajib ikut perang membela negara. Semua anak laki-laki wajib mengikuti wajib militer kecuali anak laki-laki bapak yang bijaksana tersebut karena kondisi kakinya yang patah.

Satu bulan kemudian terdengar kabar bahwa semua anak laki-laki yang mengikuti wajib militer mati terbunuh. Beberapa saat kemudian tetangga yang sirik datang kembali dan berkata “Benar ada untungnya kamu memiliki kuda, ada untungnya anakmu kakinya patah, anak saya yang sehat hari ini mati di medan perang”.

Bapak yang bijaksana berkata “Mari kita syukuri apa yang Tuhan beri, karena Tuhan yang lebih tahu apa yang terbaik buat diri ini”. Akhirnya tetangga yang sirik ini pun berubah mejadi positive thinking, berubah menjadi lebih baik, dia pun berubah menjadi orang yang bisa menerima apa yang telah Tuhan beri, termasuk kehilangan anaknya.

Di dalam dunia ini, kadang banyak hal yang terkadang kita merasa tidak cocok, merasa tidak sesuai. Mari kita lihat sebagaimana bapak yang bijaksana. Bukankah kita tidak tahu apa dibalik semua ini, bukankah kita tidak pernah mengerti apa rahasia Tuhan dibalik semua peristiwa ini. Tapi kadang kita sok tahu, terkadang kita merasa seakan-akan kita merasa lebih tahu dari pada Tuhan dan mengatakan “Kenapa ini dan kenapa itu”, ketika kita mendapatkan cobaan dan mengatakan “Kenapa saya?”.

Padahal bisa jadi kamu tidak suka sesuatu tapi itu terbaik untuk mu. Bisa jadi kamu ingin sesuatu padahal itu buruk untuk kamu. Padahal Tuhan maha tau apa yang tidak kamu tahu. Maka mari kita jangan sok tau terhadap apapun yang terjadi di depan kita, mari kita positive thinking.

Kenapa? Karena kita tidak tau apa rahasia dibalik semua ini. Dengan positive thinking kita akan bahagia. Dengan positive thinking kita akan mendapatkan karunia-karunia yang tak terduga sebelumnya. Selamat berpositive thinking. Selamat menjalani hidup ini dengan semangat positive. Selamat menerima apapun takdir yang Tuhan berikan dengan sikap dan pikiran yang positive.

December 10, 2017

Pantang Mundur





“Apakah mungkin untuk melewati jalan ini?” tanya Napoleon kepada para insinyur yang dikirim untuk menyelediki terusan St. Bernard yang menakutkan itu. “Barangkali, bukannya tidak mungkin” jawab mereka dalam nada ragu-ragu.

“Tempuh saja!” jawab Napoleon tanpa menghiraukan kesukaran-kesukaran yang hampir tak teratasi.


 

Inggris dan Austria menertawakan keputusan Napoleon untuk menggerakkan tentara melintasi pegunungan Alpen.

Tak pernah ada orang yang bisa. Apalagi dengan membawa 60.000 tentara, dilengkapi dengan meriam-meriam besar, berpeti-peti peluru dan barang dalam jumlah besar.

Akan tetapi ketika tindakan yang “mustahil” itu selesai, orang-orang sekonyong-konyong tahu bahwa hal itu memang bisa dilakukan dari dulu. Yang diperlukan hanyalah keberanian dan tekad seperti Napoleon.

Dia tidak pernah gentar menghadapi segala rintangan itu. Dan ia mengambil kesempatan itu.

December 10, 2017

Ketulusan





Alkisah di sebuah rumah mewah yang terletak dipinggiran sebuah kota, hiduplah sepasang suami istri. Dari sekilas orang yang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana usaha mereka dalam meraih kehidupan mapan yang seperti saat ini. Sayang, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh tahun pernikahan mereka, pasangan itu belum juga dikaruniai seorang anak pun yang mereka harapkan.

Karenanya walaupun masih saling mencinta, si suami berkeinginan menceraikan istrinya karena dianggap tak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasinya. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sedih dan duka yang mendalam, si istri akhirnya menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.

Dengan perasaan tidak menentu, suami istri itu menyampaikan rencana perceraian kepada orang tua mereka. Meskipun orang tua mereka tidak setuju, tapi tampaknya keputusan bulat sudah diambil si suami. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan alot, kedua orangtua pasangan itu dengan berat hati menyetujui perceraian tersebut. Tetapi, mereka mengajukan syarat, yakni agar perceraian pasangan suami istri itu diselenggarakan dalam sebuah pesta yang sama besarnya seperti pesta saat mereka menikah dulu.

Agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan mengadakan pesta perceraian itu pun disetujui. Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Sungguh, itu merupakan pesta yang tidak membahagiakan bagi siapa saja yang hadir dalam pesta itu. Si suami tampak tertekan dan terus meminum arak sampai mabuk dan sempoyongan.

Sementara sang istri tampak terus melamun dan sesekali mengusap air matanya di pipinya. Di sela mabuknya si suami berkata lantang, “Istriku, saat kau pergi nanti semua barang berharga atau apapun yang kamu suka dan kamu sayangi, Ambillah dan Bawalah !!“. Setelah berkata seperti itu, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, setelah pesta usai, si suami terbangun dari tidur dengan kepala berdenyut-denyut. Dia merasa tidak mengenali keadaan disekelilingnya selain sosok yang sudah dikenalnya bertahun-tahun yaitu sang istri yang ia cintai. Maka, dia pun bertanya “Ada dimakah aku? Kenapa ini bukan di kamar kita? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi? Tolong jelaskan”.

Si istri menatap penuh cinta pada suaminya dengan mata berkaca-kaca dan menjawab, “Suamiku, ini karena di rumah orang tuaku. Kemaren kau bilang di depan semua orang bahwa engkau berkata kepadaku, bahwa aku boleh membawa apa saja yang aku mau dan aku sayangi. Di dunia ini tidak ada satu barang yang berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati selain kamu. karena itu kamu sekarang kubawa serta ke rumah orangtuaku. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu”.

Dengan perasaan terkejut setelah sesaat tersadar, si suami bangun dan memeluk istrinya, “Maafkan aku Istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa dalamnya cintamu padaku. Walaupun aku telah menyakitimu, dan berniat menceraikanmu, tetapi engkau masih mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun“.

Akhirnya kedua suami istri ini berpelukan dan saling bertangisan. Mereka akhirnya mengikat janji akan tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya.

December 10, 2017

Belajar dari Ulat







Bagi penggemar tanaman atau yang memiliki hobi berkebun, seringkali menemukan binatang yang menjengkelkan, dimana dedaunan muda yang tumbuh segar, menjadi tak beraturan dan bolong-bolong bahkan habis dan tinggal tangkainya saja. Ternyata setelah kita perhatikan ada hewan yang biasanya berwarna hijau, sehijau dedaunan untuk kamuflase, binatang tersebut adalah ulat.

Ulat adalah salah satu binatang yang sangat rakus dalam melahap hijaunya dedaunan tanaman yang kita sayangi. Rasa marah yang sangat bila kita jumpai tanaman kesayangan kita telah habis dedaunannya, bahkan hanya tinggal ranting-ranting saja. Sedih dan marah rasanya karena usaha kita terasa terampas begitu saja karena ulah sang ulat.

Dibalik kekesalan dan rasa marah, pernahkah kita mencoba untuk melihat atau sedikit tertegun mengernyitkan dahi atas ulah sang ulat tersebut atau sebaliknya kita membunuhnya untuk melampiaskan kekesalan hati, setega itukah?

Hasil yang diakibatkan oleh ulah sang ulat memang sangat mengesankan bila dibanding dengan wujud ulat yang lemah dan lunak tubuhnya. Melihat dari akibat yang dihasilkan maka dapat kita katakan bahwa karakter ulat adalah pekerja keras dalam menggunduli dedaunan tanaman kita, seakan-akan mereka seperti dikejar deadline dan harus buru-buru untuk menyelesaikan. Hasilnya sangat mengesalkan sekali buat kita, yaitu tanaman yang gundul dalam waktu yang relatif singkat dan sekali lagi sungguh mengesankan.

Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.

Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah.

Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat sejenakpun untuk terus melahap dedaunan.

Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya.

Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan-hewan yang mengalami musim dingin. Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.

Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain-main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan.

Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan.

Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan.


December 10, 2017

Belajar Bersyukur Setiap Saat





Alkisah pada suatu pagi yang cerah, dua orang teman lama bertemu setelah sekian lamanya berpisah. Sebutlah, Andi dan Beni. Yang satu tampak sangat bahagia, yang satunya lagi tampak murung dan bahkan mukanya tampak hampir menangis.

Andi langsung bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, Beni?”

Teman yang bersedih itu sambil menarik napas panjang berkata, “Baiklah aku ceritakan padamu apa yang terjadi. Tiga minggu yang lalu, pamanku meninggal dan mewariskan 400 juta rupiah pada saya”.

Andi terkejut. "Oh, aku turut berduka. Tapi itu uang warisan yang sangat banyak”.

Beni melanjutkan dengan raut muka murung. "Dua minggu yang lalu, salah seorang sepupuku yang bahkan aku tidak kenal dengan baik, meninggal dunia. Dan ia meninggalkan warisan padaku sebanyak 800 juta rupiah”.

Mendengar itu, Andi lantas berkata, "Oh, menurutku kamu sungguh beruntung dengan hal-hal baik yang datang pada dirimu...”

“Kamu tidak mengerti" sela Beni. “Minggu lalu, adik nenek saya meninggal. Ia mewariskan 2.5 Miliar kepada saya”.

Andi pun bingung. "Jadi, kenapa kamu kok minggu ini sedih banget mukanya? Bukannya seharusnya berbahagia?”

Sambil terisak Beni pun menjawab, “Minggu ini kamu tahu apa yang terjadi? Tidak ada kejadian seperti minggu-minggu sebelumnya…”

Inilah problemanya jika seseorang menerima sesuatu secara rutin. Seperti menerima "hadiah" secara rutin. Kita cenderung kurang menghargai hadiah tersebut dari hari ke hari. Bahkan kita menganggap itu adalah sebuah keharusan dan jika hadiah itu dihentikan, kita menjadi marah dan kecewa.

Hal yang sama yang terjadi pada diri kita. Setiap hari kita menerima berkat Tuhan yang tidak terhingga. Kita mempunyai rumah untuk kita tinggali, punya makanan untuk dimakan, udara untuk dihirup, air untuk diminum. Apa yang terjadi jika salah satu hal tersebut tiba-tiba hilang (bahkan untuk waktu yang singkat)? Kita pasti kecewa. Bahkan ketika hubungan internet putus saja, kita sudah merasa kesal dan kecewa.

Maka, kita perlu mengingat semua hal yang patut kita syukuri dalam hidup ini.

Sekalipun kita dalam situasi sulit…bersyukurlah karena dengan begitu kita bertumbuh.


Jika kita melakukan kesalahan… bersyukurlah karena kita mendapatkan pelajaran berharga.


Jika kita merasa punya beban berat … bersyukurlah karena itu artinya kita sudah memberikan usaha yang terbaik dalam hidup kita.


Jika kita merasakan keterbatasan kita … bersyukurlah karena itu artinya kita punya kesempatan untuk berubah lebih baik.


Jika kita mendapat marah … bersyukurlah karena itu artinya ada orang yang peduli agar kita bisa menjadi orang yang lebih baik.

Bersyukur itu bukan hanya pada saat keadaan kita baik, bersyukur itu harus dilakukan disetiap waktu dalam kehidupan kita.

Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough” Oprah Winfrey


December 10, 2017

Sepatu yang tertinggal





Suatu hari seorang bapak tua hendak bepergian menggunakan kereta. Namun karena terburu-buru, ketika naik, sebelah sepatunya tersangkut di pintu dan jatuh ke atas rel. Ia hendak mengambilnya namun kereta terlanjur berjalan dan tak mungkin memintanya untuk berhenti. Sesaat kemudian, ia malah melakukan sesuatu yang tidak lazim. Si bapak tua dengan tenang melepas sepatu sebelahnya, lalu melemparkannya keluar tak jauh dari sepatu tadi jatuh.

Kebetulan semua kejadian itu diperhatikan oleh seorang pemuda yang duduk di dalam kereta. Karena merasa penasaran, pemuda itu hendak bertanya langsung pada si bapak tua. Begitu bapak tua itu melewati tempat duduknya, si pemuda menyapanya ramah. "Pak. Saya tadi sempat memperhatikan apa yang Bapak lakukan. Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Silakan, Nak. Apa yang ingin kau tanyakan?" ujar si bapak tua.

"Begini, Pak. Tadi Bapak sudah kehilangan satu sepatu, lalu kenapa Bapak juga melemparkan sepatu Bapak yang lain? Dengan begitu, bukankah Bapak sekarang tak punya alas kaki?"

Si bapak tua itu melihat pemuda itu sambil tersenyum, lalu menjawab ramah, "Nak, seperti yang sudah kamu lihat tadi, saya sudah kehilangan satu sepatu. Sepatu yang terjatuh tadi mungkin akan ditemukan oleh seseorang, dan bisa saja dia itu orang yang tak berpunya. Tapi, apakah sepatu yang cuma sebelah itu ada gunanya buatnya? Tidak,kan? Sementara saya sendiri, apakah sepatu yang masih melekat di kaki saya tadi juga masih bermanfaat bagi saya? Tidak juga, kan?

"Jika saya melemparkan sepatu sebelahnya lagi, kemungkinan besar orang yang tadi menemukan sepatu saya akan menemukan pasangannya. Dengan begitu, sepatu itu bisa kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Karena itulah, saya lemparkan sepatu sebelahnya lagi supaya orang yang menemukannya bisa memanfaatkannya dengan baik".

Bapak tua di dalam kisah tadi adalah Mahatma Gandhi. Apa yang dilakukan beliau mengandung sebuah filosofi dasar dalam hidup.

Sepanjang masa hidup, kita hampir pasti akan merasakan suatu kehilangan. Entah itu berupa materi atau orang terkasih. Dan bagi kita, kehilangan itu awalnya terlihat tidak adil. Tapi jika kita renungkan lebih jauh lagi, kehilangan itu sejatinya terjadi agar ada perubahan berarti atau hal yang lebih baik.

Berkeras mempertahankan apa yang kita miliki tidak membuat kita atau dunia di sekitar kita menjadi lebih baik. Tapi memberikan dengan ketulusan hati dapat membantu banyak orang dan membuat mereka bahagia. 


December 10, 2017

Seorang Guru Bijak Dan Toples Besar





Ada seorang guru bijak yang sangat disukai oleh murid – muridnya. Murid beliau pun cukup banyak dan yang datang pun banyak dari tempat jauh, Mereka berbondong – bondong datang untuk mendengarkan petuah atau kata – kata bijak yang sering keluar dari mulut guru bijak tersebut. Pada suatu ketika, seperti biasanya, murid – murid beliau datang dan berkumpul untuk mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh sang guru. Mereka datang satu persatu dan duduk dengan rapi dan tenang, serta memandang ke depan, dan siap untuk mendengar apa yang akan dikatakan atau disampaikan oleh sang guru.



Kemudian sang guru pun tiba, lalu beliau duduk di depan murid – muridnya. Beliau datang dengan membawa sebuah toples yang cukup besar, lalu disampingnya terdapat beberapa tumpuk batu yang memiliki warna kehitaman yang memiliki ukuran segenggaman tangan. Kemudian tanpa bicara sedikit pun, Beliau mengambil batu – batu itu dan kemudian satu persatu batu – batu tersebut di masukkan dengan hati – hati ke dalam sebuah toples kaca yang ia bawa. Kemudian ketika toples itu sudah penuh dengan batu hitam yang dimasukkan oleh sang guru tersebut, Lalu beliau berbalik dan menghadap ke murid – muridnya dan langsung bertanya.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Serentak murid – muridnya menjawab, “Iya guru,Benar, toples itu sekarang sudah penuh”.

Tanpa berkata apapun, sang guru lalu memulai memasukkan kerikil – kerikil bulat berwarna merah yang memiliki ukuran lebih kecil dari batu sebelumnya ke dalam toples tersebut.Karena kerikil itu lebih kecil sehingga dapat masuk dan jatuh pada sela – sela batu hitam besar yang dimasukkan lebih awal. Kemudian setelah semua kerikil itu sudah masuk kedalam toples, sang guru kembali berbalik kepada murid – muridnya, kemudian bertanya kembali.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Serentak murid – muridnya menjawab kembali, “Iya guru,Benar, toples itu sekarang sudah penuh”.

Masih tanpa berkata apapun, kini sang guru telah mengambil satu wadah pasir yang halus, kemudian beliau memasukkan pasir halus tersebut ke dalam toples. Tentu dengan mudah pasir halus tersebut masuk memenuhi ruangan kosong dari kerikil merah dan juga batu hitam. Setelah pasir halus itu semuanya masuk, sang guru kembali berbalik dan bertanya lagi ke para muridnya.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Karena para murid sudah salah dua kali, kali ini murid murid itu tidak terlalu percaya diri untuk menjawab pertanyaan dari guru mereka. Akan tetapi karena terlihat bahwa pasir halus tersebut jelas sudah memenuhi sela – sela dari kerikil dan batu yang sudah dimasukkan ke dalam toples, membuatnya sudah terlihat tampak penuh. Walaupun agak sedikit ragu beberapa dari murid itu ada yang mengangguk dan menjawab, “Iya guru,Kali benar, toples itu memang sudah penuh”.

Ternyata tetap tanpa berkata apapun lagi, Sang guru kembali berbalik, kali ini dia mengambil sebuah tempayan yang berisi air. Kemudian beliau menuangkan air itu dengan hati – hati ke dalam toples besar yang sudah terisi oleh batu besar hitam, krikil dan juga pasir tadi. Dan ketika air sudah mencapai di bibir toples,Sang guru kembali berbalik kepada para murid, dan bertanya kembali

“Apakah toplesnya sudah penuh?”

Saat itu kebanyakan para murid lebih memilih untuk diam, akan tetapi ada dua sampai tiga orang yang memberanikan diri untuk menjawab, “Iya guru” jawab sedikit murid tersebut.

Ternyata tetap sang guru masih belum berkata apapun, beliau malah mengambil satu kantong garam halus. Kemudian beliau menaburkan sedikit – sedikit serta hati – hati memasukkan garam – garam itu diatas permukaan air, dan garam halus itu pun sedikit demi sedikit larut, dituangkannya sekantong garam tersebut sampai habis dan garam – garam itu juga larut kedalam air. Sang guru kembali menghadap kepada murid-muridnya, dan kembali, bertanya, “Apakah toplesnya tersebut sudah penuh?”

Saat itu semua murid berdiam diri tanpa menjawab apapun. Hingga akhirnya ada seorang murid yang memberanikan diri untuk menjawab.

“Iya guru, toples itu sekarang sudah penuh”.

Sang guru akhirnya menjawab, “Iya benar, toples ini sekarang sudah penuh”.

Beliau kemudian melanjutkan ucapannya,

“Sebuah cerita selalu memiliki banyak makna, dan setiap dari kalian telah memahami banyak hal dari demonstrasi ini. Diskusikan dengan tenang sesama kalian, apa hikmah yang kalian punya. Berapa banyak hikmah berbeda yang dapat kalian temukan dan kalian ambil darinya”.

Murid – murid kemudian memandang sang guru, dan juga memandang toples yang sekarang sudah berisi penuh dan juga memiliki berbagai warna, ada warna hitam, merah, ada juga pasir, air, dan juga garam. Kemudian dengan cukup tenang mereka berbisik ( mendiskusikan ) dengan para murid lainnya. Kemudian setelah beberapa menit sang guru lalu mengangkat tangannya, dan seluruh ruangan pun terdiam.

Beliau lalu berkata, “Selalu ingatlah bahwa tidak pernah ada hanya satu interpretasi dari segalanya. Kalian sudah mengambil semua hikmah dan juga pesan dari cerita, dan setiap hikmah, sama pentingnya dengan yang lain”. Setelah berkata seperti itu kemudian tanpa berkata – kata lagi, sang guru bijak itu bangkit dan meninggalkan ruangan.

Dari cerita diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam menilai sesuatu tidak dapat disimpulkan atau dikatakan benar jika hanya memandang dari satu sudut pandang. Jika melihat dari sisi batu besar hitam, memang benar toples itu sudah penuh jika dimasukkan batu besar hitam lainnya. tapi jika dimasukkan dengan batu yang lebih kecil (batu krikil) ternyata toples itu masih belum penuh dan masih bisa dimasukkan lagi. Begitu seterusnya. 

Jadi untuk menyimpulkan suatu peristiwa atau apapun itu, kita harus melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda agar dapat mengambil kesimpulan yang benar – benar bisa dipertanggungjawabkan.


December 10, 2017

Belajar Mendengar





Seorang ibu bertanya kepada anaknya yang berusia 5 tahun, “Kalau mama dan kamu sedang pergi bermain bersama, lalu kita kehausan tapi tidak ada air, dan kebetulan di dalam tas kecil kamu ada 2 buah apel, apa yang kamu akan lakukan?”

Si anak berpikir sejenak, lalu menjawab mantap, “Saya akan menggigit kedua apel tersebut”.

Mendengar jawaban si anak, ibunya pun kecewa. Awalnya ia berpikir untuk segera mengajarkan anaknya mengenai apa yang seharusnya dilakukan, namun sang ibu terdiam dan mencoba bersabar.

Kemudian sang ibu berkata lembut sambil membelai sayang kepala anaknya, “Bisakah kamu beritahu mama alasan, kenapa kamu melakukan itu?”

Si anak pun menjawab dengan lugu, sambil matanya berbinar cerah. “Karena…. karena saya mau memberikan apel yang lebih manis kepada mama”. 

Begitu mendengarnya, hati sang ibu pun tersentuh. Tanpa terasa, air mata haru pun jatuh membasahi pipinya.

Terkadang, dalam keluarga dekat/harmonis pun, bisa muncul kesalahpahaman. Untuk itu, yang kita perlukan adalah kesabaran dan kemauan untuk mendengar secara tuntas penjelasan dari orang-orang yang kita kasihi.


December 10, 2017

Rahasia Semangat dan Motivasi





Sebenarnya rahasia untuk bisa terus bersemangat dan termotivasi dalam hidup itu sederhana saja. Hiduplah dengan keadaan yang selalu bersyukur dan menghargai.

Hargai dan syukuri kelebihan yang dimiliki oleh semua orang, hargai dan syukuri keajaiban dunia, hargai dan syukurilah siklus kehidupan yang terus berputar serta semua yang turut andil di dalamnya.

Hidup tanpa bersemangat itu, seperti berpetualang tanpa tujuan. Seperti ilalang dipadang yang tak mampu menari sebab angin tak kunjung berhembus. Dan siapa saja bisa merasakan desiran semangat walau hanya sesaat, namun untuk mempertahankan agar rasa semangat dan motivasi tersebut terus mengalir dalam hidup kita, itu sungguhlah sebuah seni yang dahsyat.

December 10, 2017

Belajar Dari Kehidupan Petani Untuk Bekerja Dengan Maksimal





Hidup tidak menjanjikan kepastian, ini tentu bukanlah sebuah hal yang baru pada pendengaran Anda. Ada banyak resiko, bahkan untuk semua hal yang akan Anda lakukan di dalam hidup Anda, akan tetapi penting untuk selalu bekerja dengan maksimal.

Seperti kata ahli keuangan, semua kegiatan investasi akan memiliki resiko di dalamnya, dimana semakin besar potensi keuntungan yang bisa Anda dapatkan, maka akan berbanding lurus juga dengan besarnya resiko yang wajib Anda tanggung atas investasi tersebut.

Besar atau kecil? Resiko ini tentu akan sangat tergantung pada cara Anda memandang dan juga mengatasinya. Lalu, apa yang Anda lakukan untuk mengantisipasi berbagai resiko yang akan hadir di dalam hidup Anda tersebut?

Terkadang, manusia memang suka memikirkan dan memusingkan berbagai hal yang tidak perlu, bahkan berbagai hal yang mereka sadari dengan jelas tidak akan bisa mereka atasi.

Semakin banyak Anda berpikir, maka semakin rumit juga hal-hal yang Anda pikirkan. Inilah yang kerap menimbulkan banyak kekhawatiran di dalam hidup Anda, bahkan untuk yang tidak beralasan sekalipun untuk Anda khawatirkan.

Jika terus seperti ini, maka bukan tidak mungkin Anda akan cepat tua dan selalu memiliki berbagai pikiran yang menjadi beban di dalam hidup Anda. Padahal jika dipikir-pikir lagi, hidup ini tentu tidaklah harus selalu rumit seperti itu.

Porsi yang tepat untuk pikiran dan hidup yang sehat

Apapun yang menjadi beban pikiran Anda, sebaiknya itu tetap berada dalam porsi yang wajar dan masuk akal. Jangan habiskan hidup Anda hanya untuk mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu, atau bahkan yang tidak Anda pahami sama sekali.

Ingatlah, bahwa ada batasan untuk manusia, termasuk untuk berpikir dan bertindak juga. Akan sangat baik jika Anda bisa membatasi diri Anda. Baik itu dalam berbagai macam keinginan ataupun berbagai macam pikiran yang membebani hidup Anda.

Nikmati Hidup Anda

Berhentilah khawatir dan mulailah menikmati hidup Anda dalam porsi yang tepat, di mana Anda mengupayakan semua yang terbaik di dalam hidup Anda. Bahkan hingga titik yang paling maksimal sekalipun yang Anda mampu.

Namun di luar semua itu, kembalilah menyerahkan semua hasilnya kepada Tuhan. Sebab Anda hanya bisa berupaya dan Dialah yang akan menentukan hasil akhirnya. Jika Anda dapat memiliki pikiran seperti ini, maka hidup Anda akan jauh lebih bahagia ke depannya.

Belajar Dari Kehidupan Petani



Belajarlah dari kehidupan para petani yang damai dan tetap bahagia di tengah-tengah kehidupannya yang sederhana. Sama halnya dengan pola hidup mereka, para petani ini juga bisa memandang dan membatasi pikiran mereka dengan sederhana dan wajar saja.

Bayangkan,mereka menabur benih padi dan meninggalkan sumber hidup mereka itu di sawah dan ladang yang jauh, namun mereka tetap tidur lelap di dipannya sepanjang malam. Bagaimana jika hama menghabiskannya padi-padi itu malam ini? Bagaimana jika banjir dan badai datang, lalu menggagalkan panen?

Jika selalu menghawatirkan hal-hal seperti itu, maka para petani tersebut tidak akan bisa bahagia dalam tidurnya yang lelap. Namun mereka adalah orang-orang yang tau dan mengerti dengan jelas batasannya sebagai manusia.

Mereka bekerja dengan maksimal sepanjang hari dan mengupayakan semua yang terbaik itu sawah dan ladang, lalu sisanya, biar Tuhan saja yang akan menentukan, bukan?

Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu bekerja dengan maksimal dalam segala hal yang sedang kita lakukan. Jangan takut gagal dalam melakukan sesuatu karena semua hal tentu ada resikonya. Biarlah Tuhan yang menentukan sisanya.